entho cothot-ku

Just another WordPress.com weblog

Judul Campursari Abad ini

Posted by arief on December 11, 2007

After all (Al Jarreau)
….. Entek-entekan

Againts all odds (Phill Collins)
….. Ongko Ganep

All I am (Heatwave)
….. Serakah

All blues (George Benson)
….. Kelunturan (biru kabeh)

All night long (Lionel Richie)
….. Lek-lek’an(ngebyar)

All out of love (Air Supply)
….. Tresna kebablasan

Almost unreal (Roxette)
….. Ora umum

Alone (Heart)
….. Ijen (album ‘Kendel tenan’)

Always (Bon Jovi)
….. Mesti ngono

Always somewhere (Scorpion)
….. Ngluyur terus

Another clown (Leon)
….. wong DPR

Another day in paradise (Phill Collins)
….. Suk’mben ing swargo

Babe (Styx)
….. Maratuwa (Betawi)

Beautiful girl (Jose Mari Chan)
….. Cah ayu

Become 1 (Spice Girls)
….. Ilang siji

Bed of roses (Bon Jovi)
….. Peti mati

Believe (Cher)
….. Percoyo

Big big world (Emilia)
….. Donya’ne gedhe banget

Billy Jean (Michael Jackson)
….. Tuku clono Levis

Black & white (Michael Jackson)
….. Catur

Black magic woman (Santana)
….. Mak Lampir

Blueberry hill (Louis Armstrong)
….. Gunung Pare

Bohemian rhapsody (Queen)
….. Bu Hemi nge’Rap’

Boulevard (Dan Byrd)
….. Dalan gede

Careless whisper (George Michael)
….. Seneng rasan-rasan

Don’t cry for me, Argentina (Madonna)
….. Ojo nangis, Sragen

Don’t speak (No Doubt)
….. Meneng’a wae

Don’t stop me now (Queen)
….. Ojo Nggandoli

Dust in the wind (Kansas)
….. Lesus nggawa bledug

Emotion (Destiny’s Child)
….. Muntab

Forever young (Alphaville)
….. Awet enom

Fragile (Sting)
….. Semprong

Frozen (Madonna)
….. Njendel

Goodbye (Air Supply)
….. Minggat

Grease (Bee Gees)
….. Kinclong

Hands clean (Alanis Morissette)
….. Bar Wisuh

Hard to say I’m sorry (Chicago)
….. Kisinan

Highway star (Deep Purple)
….. Jago trek-trek’an

Hotel California (Eagles)
….. Losmen Kali Pepe

How deep is your love (Bee Gees)
….. Duwekmu kok jero temenan

I don’t have the heart (James Ingram)
….. Rempela thok

I don’t like to sleep alone (Paul Anka)
….. Kelon-ana aku

I started a joke (Bee Gees)
….. mulai ndagel

I still believe (Brenda K Star)
….. Ngengkelan

I’ll be here waiting for you (Richard Marx)
….. Dak-cegat nyang kene

I’ve never been to me (Charlene)
….. Ora pernah kenal Tomi

If (Bread)
….. Umpama

If we hold on together (Diana Ross)
….. Umpamane gandengan tangan

In the morning (Bee Gees)
….. Isuk utuk-utuk

In your eyes (George Benson)
….. Mecicil

It’s you (Dionne W & Stevie W)
….. Kurang ajar – ngaget-ngageti

Jump (Van Halen)
….. Njondil (album ‘Kaget’)

Just once (James Ingram)
….. Sepisan wae

Just the way you are (Billy Joel)
….. Sak-karepmu

Killing me softly (Roberta Flack)
….. Di-ithik-ithik sak-modar’e

Kiss me (Sixpence None The Richer)
….. Kismis

La copa de la via (Ricky Martin)
….. Ayo bal-balan

Lady Valentine (David Gates)
….. Putri Solo

Lea (Toto)
….. Liyo (ora podo)

Like a virgin (Madonna)
….. Ketok’e perawan

Long train running (Doobie W)
….. Kepancal Sepur

Lost in love (Air Supply)
….. Wes gak tresno

Making love out of nothing at all (Air Supply)
….. Getun (mari maen gak dibayar)

Mama (Genesis)
….. Mak’e

Mandy (Barry Manilow)
….. Adus

Me and you and dog named Boo
….. Aku ambek koen dicokot kirik

Mermaid (Tatsuro Yamashita)
….. Iwak ayu

More than words (Extreme)
….. Nggedabrus pol

My heart will go on (Celine Dion)
….. Loro hepatitis

My way (Frank Sinatra)
….. Sak-karepku

O Danny boy (tradisional Irlandia)
….. Jebul’e anake Dani!

Paint my love (Michael Learns to Rock)
….. Ngecet omahe pacar

Pretty boy (M2M)
….. Banci

Release me (Engelbert Humperdinck)
….. Cul’na aku

Sailing (Rod Stewart)
….. Iseh Eling (ora edan)

Saturday night fever (Bee Gees)
….. Nggreges tapi nekat ngapel

Self control (Laura Branigan)
….. Poso

Shy guy (Diana King)
….. Clingus

Smile again (Manhatan Transfer)
….. Ayo ngguyu (Waljinah)

Smoke gets in your eyes (jazz)
….. Kakehan ngrokok

Smoke on the water (Deep Purple)
….. Umob (album ‘Nggodog Wedang’)

Smooth (Santana)
….. Lunyu (album ‘Kepleset’)

So young (The Corrs)
….. Bocah SD

Soldier of fortune (Deep Purple)
….. Prajurit raiso mati

Something stupid (R William & Nicole Kidman)
….. nggobloki

Stayin’ alive (Bee Gees)
….. Gak iso mati

Still (Lionel Richie)
….. Isih (durung entek)

Still loving you (Scorpion)
….. Gak duwe isin

Stuck on you (Lionel Richie)
….. Kecanthol

Suddenly (Billy Ocean)
….. Mak-jegagik / uJUG uJUG

Summertime (jazz)
….. Loro Panas

The prayer (Andrea Bocelli & Celine Dion)
….. Mbah Modin

The temple of the king (Rainbow)
….. Candi Raja

To all the girls I loved before (Julio Iglesias)
….. Kanggo randha-randhaku

Torn (Natallie Imbruglia)
….. Suwek

Truly (Lionel Richie)
….. Tenan’e

Uptown girl (Westlife)
….. Wong wedok nggunung

Viva forever (Spice Girls)
….. Ketagihan wedak Viva

Warrior (Pat Benatar)
….. Sepatu basket

We will rock you (Queen)
….. Balang-balangan watu

Wild woman (Michael Learns to Rock)
….. Morotuwo

Woman in love (Barbra Streisand)
….. Suminten edan

Words (Bee Gees)
….. Nggedabrus

Zombie (Cranberries)
….. Gendruwo

Posted in Senyum Donk | Leave a Comment »

Superman salah desain

Posted by arief on December 11, 2007

Anda tahu Superman ? Manusia baja yang bisa terbang, begitu kisahnya, namun tahukah anda bahwa sebetulnya kalau kita bisa menemukan keliru desain pada diri Superman ?

Penasaran?

Coba anda perhatikan Superman dan baju serta jubahnya.
Logikanya, kita saja yang bila hujan dan memakai jas hujan di atas sepeda motor akan merasa laju kita terhambat dengan “jubah“ jas hujan kita, padahal kita hanya melaju rata-rata 60 km/jam bila didalam kota .
Apalagi Superman yang bisa terbang ratusan km/jam, pasti akan sangat kerepotan dan terhambat dengan jubah yang berada di bahunya tersebut tersebut.
Belum lagi dengan pakaiannya yang sangat minim, pasti akan sangat dingin dengan kecepatan dan ketinggian terbangnya. Jadi, kayaknya kelihatan sekali Superman memang salah desain kalau tidak mau dianggap sebagai  tidak aerodinamis.

Bagaimana dengan kita ? terkadang “kostum atau topeng “ yang kita pakai dan banggakan bisa jadi menjadi beban bagi perjalanan hidup kita. 

Posted in Sosial | Leave a Comment »

Jadilah Cahaya

Posted by arief on December 7, 2007

Saya mengenal sudah sekian tahun yang lalu, orangnya sederhana namun menjadi tumpuan banyak orang. Saya sering memanggilnya dengan sebutan Pak Dedi Panigoro. Saya pernah tanyakan padanya, bagaimana caranya dia bisa menjadi tumpuan banyak orang.

Katanya, Jadilah cahaya bagi mereka yang hidup ditengah kegelapan

Posted in Sosial | Leave a Comment »

RFID Pada Idustri Pengolahan Udang di Thailand

Posted by arief on June 22, 2007

Sebagai salah satu produsen dan eksportir udang terkemuka, Thailand dikabarkan akan Meningkatkan kualitas produk udangnya dengan menerapkan sistem food traceability berbasiskan teknologi RFID ( radio frequency identification ). Dua eksportir udang terbesar Thailand, Charoen Pokphand Foods (CPF) dan Chanthaburi Frozen Food menginvestasikan sekitar 10 juta baht atau sekitar 2,4 miliar rupiah untuk ujicoba sistem ini.

Penerapan teknologi informasi berbasis RFID ini tak terlepas dari tuntutan industri makanan secara global. Saat ini, para produsen bahan makanan berorientasi ekspor dituntut untuk menyesuaikan proses produksinya sesuai dengan standar internasional seperti COC, GAP, GMP dan HAACP.

Penggunaan teknologi, seperti sistem food traceability , diharapkan akan meningkatkan dayasaing dan mengamankan pangsa pasarnya di pasar global. Sistem food traceability sendiri bertujuan untuk memperbaiki kualitas dan keamanan makanan, khususnya untuk mengantisipasi kasus-kasus kontaminasi makanan.

Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand , udang merupakan salah satu komponen ekspor strategis. Tahun lalu, industri udang Thailand memasok devisa sekitar 67,3 miliar baht, atau sekitar 16,3 triliun rupiah. Industri ini melibatkan banyak pihak dalam rantai produksinya, mulai dari petambak, produsen, peritel sampai para pemasok. Sekitar 80 persen bahan mentah untuk produksi dipasok secara lokal. Adanya sistem food traceability , tentunya, akan mempermudah pemantauan kualitas produk makanan sepanjang rantai produksinya.

Saat ini, sejumlah negara tujuan ekspor produk udang Thailand seperti AS, Jepang dan negara- negara Eropa diketahui telah mensyaratkan upaya-upaya pengamanan bahan makanan, salah satunya dengan sistem food traceability ini.

Seperti dilaporarkan harian Bangkok Post, saat ini sistem RFID untuk aplikasi food traceability tersebut tengah dikembangkan oleh National Innovation Agency (NIA) dan National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec), bekerjasama dengan Kementerian Perikanan, Pertanian dan Koperasi Thailand, serta produsen smart card /RFID cluster lokal. Sejumlah vendor TI juga terlibat dalam inisiatif ini, seperti FXA Group, IE Technology dan IBM Thailand. Praderm Chotisuparach, executive vice president, IT Department, Charoen Pokphand Foods (CPF), mengakui bahwa proses kerja manual memang lebih murah, namun dibutuhkan waktu lama untuk melacak asal-usul produk makanan sampai ke sumbernya. Sementara kehadiran RFID, sekalipun dibutuhkan up-front cost yang besar, memungkinkan proses tersebut lebih cepat dan akurat.

Dalam jangka panjang, teknologi seperti ini membantu perusahaan memperpendek proses pelacakan makanan. Proses ini juga meningkatkan keyakinan konsumen terhadap keamanan produk makanan yang dikonsumsinya,” ujarnya. Jika terjadi masalah, sistem ini memungkinkan perusahaan melacak sampai ke lokasi tambak darimana udang tersebut berasal.

CPF sendiri akan mengujicoba penggunaan RFID selama tiga bulan di fasilitas pemrosesannya di propinsi Klaeng Rayong, yang mengolah sekitar 80 ton udang per hari.

mengakui proses perancangan dan pengujian sistem traceability ini memakan waktu lama, karena menggunakan pola trial and error . Lagipula, tidak ada satu pihak pun yang pernah mengaplikasikan teknologi ini di industri udang.

Namun, Praderm percaya bahwa teknologi ini dapat berfungsi baik. Sifat RFID yang tahan air ( water resistant ) membuatnya cocok untuk diaplikasikan di industri udang, yang sebagian besar lini produksinya berada di lingkungan air.

itu, eksportir udang utama Thailand lainnya, Chanthaburi Frozen Food, akan memulai proyek uji cobanya Desember ini. Peranti lunak traceability dan sistem RFID ini akan diujicobakan di salah satu dari tiga pabrik pengolahan di Chantaburi. Di fasilitas ini, sekitar 100 ton udang diolah setiap harinya.

coba ini, menurut managing director CFF , Paibool Dussadeevutikul akan berlangsung selama enam bulan. Sistem ini diterapkan di seluruh proses produksi CFF, mulai dari penerimaan, pembersihan, pemotongan kepala udang, pengupasan kulit, pemasakan, pembekuan, pengemasan dan penyimpanannya.

uji coba pertama ini selesai, CFF akan memperluas sistem ini mencakup dua pabrik lainnya, ujar Paibool. Hal ini terkait rencana CFF untuk menembus pasar Eropa tahun depan, dan sistem ini diperlukan untuk menjamin keamanan produk-produk udang yang diekspornya.

uji-coba kelayakan maupun keakuratan sistem RFID-nya, baik CPF maupun CFF bekerja sama dengan FXA Group, IE Technology dan IBM Thailand. IE Technology bertanggung jawab pada implementasi sistem RFID, sementara IBM menangani middleware yang memungkinkan sistem RFID berkomunikasi dengan peranti lunak database di back office -nya.

depan, kementerian pertanian Thailand mengatakan bahwa aplikasi traceability berbasis RFID ini dapat diaplikasikan ke produk-produk makanan lain. Salah satu yang paling potensial adalah industri ayam potong. Thailand setidaknya mengekspor 400 juta ekor ayam potong setiap tahunnya.

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

Waspadai Keamanan Produk Makanan dari China

Posted by arief on June 19, 2007

51 Orang Tewas di Panama, Banyak Negara Kaji Makanan dan Obat ImporBeijing, Rabu – Konsumen China kini ekstra waspada dalam membeli makanan yang dijajakan di pasar China. Konsumen di berbagai negara juga bergegas mengkaji produk China setelah ditemukan korban tewas di Panama dan juga kucing serta anjing yang tewas di AS setelah memakan produk beracun buatan China Konsumen di China kini makin khawatir karena daging babi pun, yang banyak dikonsumsi, beracun atau terkontaminasi bahan kimia berbahaya. Warga juga khawatir dengan sayur yang terkontaminasi pestisida.

Isu ini makin mencuat setelah pekan lalu Kanada, Haiti, Republik Dominika,Selandia Baru, dan Australia menyatakan kewaspadaan atas produk buatan China. Hal ini makin mencuat setelah mantan Dirjen Pengawas Makanan dan Obatan-obatan China Zheng Xaoyu dihukum mati Zheng yang menjabat pada instansi itu periode 1998-2005 dianggap berperan besar. Di masa jabatannya, ia meloloskan banyak makanan dan obat-obatanpalsu dan berbahaya. Ia mendapatkan suap sekitar Rp 7,6 miliar atas perbuatannya yang membahayakan nyawa orang.

“Hukuman bagi Zheng merupakan langkah penting untuk mengatasi persoalan besar industri farmasi,” kata Chen Zhonglin, profesor hukum di sebuah universitas di Chengu. Berpikir dua kali Kini warga China berpikir dua kali sebelum membeli produk. “Lihat warna benda ini,” kata Ning Qiyun, saat membeli saus dengan warna merah yang terlalu mencolok di supermarket. Ning kini ekstra waspada.Hal itu seiring dengan berita Xinhua, Rabu (30/5), yang menyebutkan,sekitar 60 persen minyak sayur yang dijual di kota Chongqing juga berpotensi beracun yang bisa merusak hati dan jantung. Badan pemantau obat dan makanan China kini sedang diselidiki secara saksama karena dinilai sangat berperan meloloskan makanan dan obat-obatan palsu. Di China sendiri kini banyak produk yang ditarik dari peredaran. Juga ada pemberian daftar hitam pada perusahaan yang dituduh mengedarkan makanan berbahaya bagi kesehatan.

Otoritas China kini menyerukan kepada pejabat pemerintah daerah agar memperketat pengawasan dan bahkan diminta melarang makanan palsu yang membahayakan.Korban sudah bermunculan Isu makanan berbahaya buatan China sudah menelan korban jiwa. Puluhan orangtewas di China setelah mengonsumsi obat dan makanan beracun. Kasus utama adalah pada 2004, dengan setidaknya 13 bayi meninggal karena kurang gizi setelah mengonsumsi susu yang ternyata hanya berbahan tepung tanpa kandungan gizi. Isu makanan buatan China juga menjadi isu internasional setelah produk gandum dan jenis protein di dalam makanan hewan mengandung melamin yang membahayakan hewan.

Hal ini telah mengakibatkan tewasnya sejumlah anjing di AS dan mencuatkan kontrol makanan hewan. 51 warga Panama tewas setelah menenggak obat batuk sirup buatan China. Salah satu rumah sakit di Guangzhou, China, digugat setelah seorang pasien tewas tak lama setelah disuntikkan Armillarisni A palsu. Di berbagai negara juga ditemukan pasta gigi buatan China yang mengandung diethylene glycol, bahan kimia beracun tingkat tinggi. Sekitar 20 persen makanan yang dikonsumsi di Selandia Baru juga berasal dari China.

Zealand Food Safety Authority (NZFSA) Carol Inkster mengatakan, semua produk China akan dikaji kembali.Dr Henk Bekedam, perwakilan China di World Health Organization (WHO), juga mengatakan, keamanan produk China telah menimbulkan sejumlah kekhawatiran. AS telah menghambat 257 produk China karena tak memenuhi standar, seperti produk ikan yang mengandung bahan kimia yang berpotensi mematikan,tetrodotoxin. Hu Keyu, manajer dari Goldcredit International di China, mengatakan, perusahaan pembuat pasta gigi merek Excel dan Mr Cool menggunakan diethylene glycol karena lebih murah ketimbang glycerin. “Tujuannya adalah untuk meraih untung,” kata Hu kepada New York TimesProduk makanan buatan China juga ditemukan beredar di Hongkong. Lipstik untuk bibir wanita juga mengandung bahan beracun dan sudah ditemukan beredar di Hanoi serta Ho Chi Minh City, Vietnam.

Pada laporan berjudul Annual European Food Safety Authority Report yangdiluncurkan Komisi Uni Eropa pada 2007 ditemukan 924 produk berbahaya, dari jumlah itu sebanyak 440 produk adalah buatan China. REUTERS/AP/AFP/MON)Kompas (edisi cetak), Kamis, 31 Mei 2007, halaman 9

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

Awas Obat Berbahan Sampah

Posted by arief on June 12, 2007

Liputan6.com, Jakarta: Tak ada yang istimewa dengan aktivitas para pemulung sampah dan limbah rumah sakit di tempat pembuangan sampah di salah satu rumah sakit di Jakarta, belum lama ini. Benda-benda dipungut antara lain plastik, selang infus, botol obat, dan tak jarang sejumlah pil atau obat-obatan lain yang sudah dianggap sampah oleh rumah sakit. Namun, jangan anggap enteng aksi mereka. Sampah-sampah itu ternyata mengundang munculnya sindikat pemalsu obat. Sampah itu disulap menjadi obat-obatan. Namanya juga sampah, tentu obat-obatan yang dihasilkan palsu adanya. Dunia medis pun kini tercoreng karenanya.

Jumat silam, misalnya, personel Kepolisian Daerah Bali menangkap Mustaji sedang berjualan obat bekas. Dari tersangka disita lebih dari 220 jenis obat daftar G. Mustaji mengaku, obat-obat bekas itu dibeli dari para pemulung yang memungut sampah di rumah sakit. Yang lebih seram, obat-obat itu ia jual keliling dari rumah ke rumah dengan harga murah.

Lain Bali, lain pula Jakarta. Personel Kepolisian Resor Jakarta Pusat beberapa waktu silam membongkar sindikat pemalsu obat. Para pelaku ternyata sangat piawai memalsukan obat-obat penting. Mulai dari cairan infus hingga obat tekanan darah tinggi maupun serangan jantung.

Obat-obatan berkelas sampah yang berhasil disita polisi jumlahnya mencapai ribuan butir dan dari berbagai merek serta jenis obat. Mulai dari cairan infus, antibiotik injeksi, vaksin hepatitis B, hingga obat-obatan keras untuk penyakit tekanan darah tinggi, jantung, dan lain-lain.

Awalnya, polisi menangkap Muhtar alias Tatang yang tinggal kawasan Kayumanis, Jakarta Timur. Di rumah kontrakannya, polisi mendapati 21 jenis obat kedaluwarsa yang sudah disulap menjadi layaknya obat sungguhan.

Jejaring sindikat obat palsu Tatang ternyata tidak hanya beroperasi di Jakarta. Alat suntik dan obat-obatan palsu produksi Tatang ternyata diperjualbelikan hingga ke Jawa Tengah serta Jawa Timur. Polisi mencurigai, obat palsu van Tatang juga beredar ke berbagai pelosok daerah lainnya di Tanah Air.
Bagaimana mereka memalsukan obat-obat sampah? Ada tiga modus, yakni mengganti tanggal kedaluwarsa, mengganti label kemasan, dan memasukkan cairan asal ke dalam botol-botol infus atau injeksi. Bila dilihat sepintas, obat palsu buatan Muhtar dan kawan-kawan nyaris sempurna menyerupai yang asli. Tapi, namanya juga sampah tentu tak bisa menjadi obat.

Pemalsuan obat dengan modus memanfaatkan obat bekas dan kedaluwarsa juga terbongkar di alikpapan, Kalimantan Timur. Awal Maret silam, lebih dari 80 ribu obat kedaluwarsa berbagai jenis seperti antibiotik, obat asma, hingga obat stroke diamankan polisi sebelum jatuh ke pasaran. Di kota minyak itu, sindikat obat kedaluwarsa ternyata bekerja pada salah satu rumah sakit di Balikpapan.

Obat-obatan palsu apa pun bentuknya tentu berbahaya, terutama untuk jenis obat-obatan vital seperti obat jantung, stroke atau berbagai jenis vaksin. Badan Kesehatan Dunia atau WHO melansir lebih dari 200 ribu pasien meninggal gara-gara mengonsumsi obat palsu setiap tahunnya.

Setelah Tatang tertangkap, kini masih ada puluhan pemain obat palsu lain yang masih beroperasi di Jakarta. Baik pemain obat palsu yang mendaur ulang sampah rumah sakit, maupun sindikat obat palsu pemalsu berbagai merek obat terkenal.

Sumber Sigi, seorang pemain obat palsu punya cerita yang menguatkan kenyataan itu. Menurut Macho, sebut saja demikian, peredaran obat-obat palsu sudah merambah ke kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya dan Medan. Obat-obat tersebut didistribusikan melalui pasar-pasar atau toko-toko obat yang ada di Jakarta. “Selain itu ada sales-sales lepas PBF atau bekas distributor yang masih aktif atau tidak dan selalu berhubungan dengan orang di pasar obat,” kata Macho.

Seperti apa sebenarnya jaringan dan cara kerja para pelaku obat palsu? Lika-liku jaringan mereka dimulai dari tempat sampah dan limbah sejumlah rumah sakit besar di Jakarta. Lalu, para pemulung menjual segala jenis obat, botol, suntikan, maupun botol infus kepada pengepul.

Dari tangan pengepul, pebisnis obat palsu mengemas serta mengisi ulang limbah-limbah itu menjadi layaknya obat sungguhan. Ada juga obat-obatan kedaluwarsa yang dijual begitu saja di sebuah pasar obat terkenal di Ibu Kota. Diduga, obat-obat kedaluwarsa tersebut biasa dijual kepada para pemain obat palsu.

Lantas bagaimana prosesnya? Obat kedaluwarsa, misalnya, dihapus tanggal batas pemakaiannya lalu disablon ulang menjadi seolah masih layak konsumsi. Sedangkan untuk jenis obat-obatan cair atau injeksi palsu, biasanya dibuat dengan cara mengganti label atau kemasannya. Ini bertujuan untuk mengelabui konsumen atau pasien seolah-olah obat injeksi bermutu tinggi karena mereknya terkenal.

Cara ketiga adalah mendaur ulang sampah-sampah rumah sakit menjadi obat palsu. Umpamanya, botol infus atau cairan suntikan kosong diisi dengan air atau mengganti isi serbuk injeksi dari yang murah menjadi mahal.

Ibarat virus, penyebaran obat palsu sudah sampai pada stadium gawat. Peredaran maupun jenisnya menyebar ke mana-mana. Tengoklah kedai-kedai obat keperkasaan yang banyak dijumpai di jalanan Ibu Kota. Di sana, satu butir sachet pil keperkasaan dijual antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Tidak lebih dari seperlima harga pil sama yang diproduksi farmasi resmi. Meski pembelinya tahu obat-obatan ini palsu, toh, tetap saja laku keras.

Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), selama lima tahun terakhir, jumlah obat palsu yang dirazia mencapai 80 merek obat. Jenisnya pil dan kapsul. Mulai dari obat tanpa resep yang biasa dijual warung-warung hingga obat-obatan etikal atau obat yang diresepkan dokter.

Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) bahkan menaksir, jumlah obat palsu yang beredar bisa berlipat-lipat temuan Badan POM. “Kalau obat sampah jumlahnya kecil. Dari investigasi kita terakhir, kebanyakan generik diganti kemasan bermerek,” jelas Marius Widjajarta, Ketua YPKKI.

Perang melawan obat palsu memang bukan perkara mudah. Kalangan pabrikan justru sepertinya cuek dengan kenyataan itu. Maklum, jika mengakui ada salah satu obatnya yang dipalsu justru merugikan bisnis mereka.

Belakangan, gema perang melawan obat palsu banyak digalakkan para pabrikan farmasi asing yang tergabung dalam IPMG. Menurut Parulian Simanjuntak, Manager Eksekutif IPMG, obat- obatan yang dipalsukan biasanya yang laku keras di pasaran dan harga jualnya tinggi.

Serangkaian operasi memang digelar Badan POM dan aparat lainnya. Namun, obat palsu tetap saja beredar. Obat palsu diproduksi secara serampangan, jauh dari standar cara pembuatan obat yang baik atau CPOB. Husniah R. Thamrin, Ketua Badan POM, pelaku pembuat obat palsu harus dihukum seberat-beratnya. “Karena risikonya menyebabkan kematian,” kata Husniah. Bagaimana sesungguhnya membedakan obat abal-abal dengan yang asli? Jika secara fisik susah, cara paling jitu adalah dengan mengujinya ke laboratorium. Tim Sigi memperoleh obat-obat yang menurut informasi dari pedagang serta apoteker palsu. Obat-obat yang didapat itu emudian dibawa ke Badan POM. Setelah diuji, ternyata benar, obat-obat tersebut terbukti kadarnya jauh di bawah standar agar berkhasiat. Orang farmasi menyebutnya obat substandar alias tiruan atau palsu.

Apa boleh buat, memang. Ketimbang salah pilih obat, sampai saat ini memang tak ada pilihan lain kecuali membeli obat di tempat resmi dan tentu atas resep dokter.(BOG/ Tim Sigi)

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

HIDUP SEHAT ALAMI

Posted by arief on June 10, 2007

HIDUP SEHAT ALAMI
Dr. Tan Tjiauw Liat
Oleh: Emma Madjid
(Majalah Nirmala, April-2007)
KITA boleh iri melihat sosok Dr Tan Tjiauw Liat. Bukan hanya fisiknya yang segar, sehat, dan lincah (tinggi 167 cm/berat 59 kg) tapi daya ingatnya juga luar biasa. Selama wawan­cara dua setengah jam, ia membuka lebih dari 10 buku, di antaranya How To Use Glutamine to Strengthen the Immune System, Improve Muscle Mass & Heal the Digestive Tract, The Anti-aging Zone, dan Water Cures: Drugs Kill untuk menunjukkan latar belakang pendapat­nya. Buku-buku tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi
buku yang berjajar rapi di dalam lemari bukunya.

Saya benar-benar kagum pada dokter berusia 76 tahun itu. la bukan hanya ingat warna cover buku, judul, atau tempat buku itu disimpan, melainkan hafal di luar kepala isi buku-buku itu. Mulai dari alinea, kalimat, yang sudah diberi dua garis dengan tinta merah, sampai kata per kata!. Luar biasa….

Buku-buku, jurnal-jurnal kesehatan, news­letter, baginya merupakan harta yang tak terni­lai. Ketika banjir melanda Jakarta tahun 2002, rumahnya di bilangan Pluit tak luput dari ben­cana. Anak-anaknya khusus menyewa truk dan jukung untuk mengevakuasinya, namun Dr Tan tetap bertahan hanya mengungsi ke ru­mah tetangganya. la enggan beranjak dari rumahnya. “Lantaran buku-buku saya masih di dalam,” katanya. la hanya minta dibawakan sayuran mentah sebagai menu makannya.

Senjatanya: tomat dan mentimun

Pukul 15.00 saat mewawancarai Dr Tan di tempat praktiknya di Pluit, tampak beberapa pasien yang mengalami stroke mulai berda­tangan. Beberapa pasien harus dipapah atau didorong di kursi roda, untuk sampai ke ruang praktik. Pria berkacamata yang sore itu menge­nakan kemeja putih lengan pendek itu lang­sung berdiri dan membuka pintu kamar prak­tiknya.
Dengan suara yang nyaring yang meru­pakan ciri khasnya, ia menyapa para pasien dan memperkenalkan mereka kepada saya.

“Ini pasien saya yang sudah berumur 100 tahun. Nah, bapak yang itu tadinya stroke berat, sekarang sudah bisa jalan. Pasien yang duduk dikursi roda itu otaknya sudah dibedah di rumah sakit. Waktu datang tidak berdaya sama sekali, tetapi setelah saya anjurkan makan tomat dan mentimun, kondisinya jauh lebih baik,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pasien­-pasien yang dimaksud. Mereka tampak ceria, dan mengatakan bahwa gairah hidupnya kembali setelah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dr Tan.

Dulu ‘kapal keruk’

Dokter Tan mengaku kesadaran akan pentingnya hidup sehat, tumbuh sejak lima tahun terakhir ini. “Sedari kecil saya doyan makan. Kalau sedang ada perayaan Cap Go Meh, Nenek menyediakan berbagai macam makanan enak. Tentu saja saya ’sikat’ sampai perut saya keras kekenyangan,” tuturnya.

Kebiasaan makan enak itu terus berlanjut sampai ia bersekolah di Jakarta. “Waktu itu saya indekos di Jalan Raden Saleh. Dalam waktu 3 bulan, berat badan saya bertambah 13 kg,” katanya. Sampai ia berkeluarga, ia belum bisa mengerem kebiasaannya itu. “Saya sering makan di hotel berbintang lima yang memberi diskon 50% untuk paket makan sepuasnya (all you can eat) Saya pikir, kapan lagi bisa makan enak dengan harga murah? Di sana saya bisa ngopi dan makan sepuasnya,” tutur Dr Tan mengenang kebiasaannya ketika ia berusia 60 tahun.

Bukan Dr Tan namanya jika berbicara tanpa data. Dari lacinya, ia menge­luarkan selembar foto diri saat bobotnya 80 kg. Penampilannya sama sekali berbeda dengan sosok yang berada di depan saya!

Namun setelah itu badannya mulai terasa tidak nyaman. Pada waktu berjalan, misalnya, dadanya terasa sesak. “Padahal saya rajin mengukur tekanan darah, dan hasilnya normal, 120/80,” katanya.

Pada satu kesempatan berkunjung ke Australia menengok seorang anaknya yang bersekolah di sana, ia mendatangi seorang dokter. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu, diketahui tekanan darahnya melesat sampai 180. “Dokter menyuruh saya minum obat. Tetapi saya bilang, NO!. Saya katakan kepadanya, saya akan kembali tiga bulan lagi, dan saya pasti sudah sembuh,” ujarnya.

Pulang dari dokter, ia langsung ngeloyor ke toko buku mencari buku kesehatan. “Saya tidak mau sakit, saya ingin panjang umur. Nah, sejak itu saya gandrung membaca buku-buku mengenai kesehatan,” katanya.

Sekolah di Internet

Latar belakang pendidikannya sebagai dokter lulusan FKUI tahun 1958 dan spesialis radiologi sangat mendukung keinginannya untuk menemukan kunci hidup sehat. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin secara aktif memudahkannya membaca dan menyerap ilmu kesehatan dari berbagai sumber.

“Sampai sekarang saya masih belajar dan terus belajar. Sekolah saya Internet. Media cybernet atau penjelajahan situs-situs Internet yang dapat dipertanggung­jawabkan, semakin memperluas wasasan saya,” ujarnya sambil menyebut situs favoritnya: www.mercola.com.

Hampir setiap hari ia duduk di depan laptop-nya dari pukul 23.30 sampai pukul 05.00, mencari berita kesehatan yang aktual. Dengan demikian, ia tidak pernah ketinggalan informasi. Sebelum duduk di depan laptop, ia selalu melakukan meditasi terlebih dahulu dengan bantuan CD yang berisi suara gemercik air hujan. “CD tersebut dipakai untuk meningkatkan kemampuan fokus. Sudah setahun lebih saya menggunakan CD untuk meditasi,” ujarnya. Gadget IT milik orang kantoran masa kini adalah mainannya di usia kepala tujuh. la mahir mengoperasikan komputer dengan segala programnya, merekam dengan USB, sms dijawab melalui PDA-nya dengan kecepatan
anak muda, mengirim faksimili pun dilakukannya sendiri.

Ada apa dengan tomat dan mentimun?

Hasil bacaan dan penelusuran di alam maya itulah yang menelurkan gaya hidup dan pola makan yang diterapkannya sekarang.

“Unsur genetika spesies manusia yang dibawa DNA-nya pada kenyataannya tidak pernah berubah sejak zaman purba hingga kini; bahkan di masa mendatang,” katanya. Yang berbeda adalah yang ada di sekeliling kita, sebagai hasil dari kecerdasan manusia dan olah teknologi. Ini yang mempengaruhi cara hidup manusia dan cara mengelola hidup termasuk makanannya,
serta bagaimana tubuh bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi.

Gen (pembawa sifat keturunan yang terdapat pada inti sel) adalah rangkaian gugusan DNA yang tidak mungkin mengalami perubahan dalam waktu singkat. Perubahan pada struktur gen membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya
akibat paparan (ter-expose) oleh lingkungan yang juga telah berubah dalam kurun waktu sekian lama.

Banyak bukti antropologis (bukan hanya dari sisi medis) yang menjelaskan bahwa penyakit yang muncul saat ini adalah sebagai akibatpola makan, gaya hidup, dan paparan lingkungan. Yaitu karena manusia sudah jauh melenceng ke luar dari rel sebagaimana alam.

Hidup di zaman sekarang tidak bisa terlepas dari polusi, dan kepungan penyakit yang membuat kita mudah sakit. Bagaimana mengantisipasinya?
“Pertama insulin harus dikontrol, dan yang kedua pola makan kita harus mengikuti pola makan manusia purba. Manusia purba tidak mengenal api, apalagi kompor dan microwave. Segala sesuatu dikonsumsi secara mentah (raw) dan segar (fresh). Dengan asupan serupa ini tidak heran tubuh akan jauh lebih tahan terhadap segala sesuatu,” tuturnya.

Lalu, untuk apa ada restoran? “Restoran itu suatu kebudayaan (civilitation). Itu bukan untuk kesehatan kita. Jika untuk kesehatan,
kita harus balik ke DNA kita. Kita hanya makan dedaunan atau sayuran mentah. Tidak ada cara lain. Kalau tidak demikian, pasien saya pasti gagal semua….,” katanya dengan lantang.

Sayur mentah satu baskom

Dokter Tan, tidak hanya cuap-cuap memberi nasihat kepada pasien-pasiennya agar mengkonsumsi sayuran mentah untuk mengobati stroke yang mereka derita, tetapi dalam keseharian ia benar-benar mempraktikannya dengan disiplin. “Pukul 6 pagi saya makan buah. Buah yang ada dalam simpanan saya. Kalau ada apel ya itu saja yang dimakan, tapi bukan buah manis tinggi fruktosa seperti pepaya, pisang atau mangga ranum,” katanya.

Menurutnya, dari tengah malam sampai jam 12.00 terjadi siklus pembuangan, sebaiknya perut tidak diisi dengan makanan berat. “Siang hari saya makan sayur mentah. Banyaknya satu baskom (mangkuk besar) yang ditambah jahe, kunyit, masing-masing ukuran satu jari, dan satu siung bawang putih. Semua bahan itu dimasukkan ke dalam juice-extractor- bukan blender atau juicer biasa. juice extractor ini mempunyai putaran mesin hanya 30 rpm sehingga tidak menimbulkan panas di atas 30 derajat Celsius, dan
ekstraksi mineral terjamin sempurna. Selain itu saya juga makan satu kuning telur mentah organik yang jelas bebas bakteri,” katanya. Siang itu sayur yang memenuhi baskomnya terdiri dari brokoli, selada, paprika kuning, tomat, dan mentimun yang dipotong-potong. la adalah pelaku raw-food yang setia dan me­ngerti betul dasar latar belakang mengapa makanan
yang disantap harus raw alias men­tah. Bahan makanan dari tanaman yang me­mungkinkan dimakan mentah dan enzim (katepsin) yang terkandung dalam sayuran mentah itulah yang menghancurkan diri sendiri (self destruct) agar komponennya dapat dise­rap pencernaan kita sebagai sumber gizi. Sedangkan sayuran lain yang biasanya perlu dimasak (misalkan kangkung,
bayam, kailan, caisim, diambil ekstraknya melalui juice extractor.

Makan sayur mentah saja, apakah tidak lapar? “Tentu saja tidak, karena komposisi sayuran saya bermacam-macam, kondisi ini menjamin” plant-based food” tetap prima sebagai sumber kalori dan energi. Masih di­tambah bawang bombai, aneka sprouts (se­jenis taoge). Kalau masih lapar saya menggado tomat dan mentimun,” katanya.

Masih makan kedondong

Dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya kini Dr Tan sangat hati-hati mengkonsumsi makanan maupun minuman. la tidak lagi minum kopi kendati dulu disukainya. “Kalau orang setua saya minum kopi sekali, berarti terbentuk kortisol dalam waktu 24 jam. Kortisol akan bertumpuk jika kita terus mengkonsumsi kopi. Jika sudah demikian, segala macam penyakit akan datang. Misalnya, kita jadi pikun,” katanya.

Air putih adalah minuman terbaik, karena dapat menggelontor lemak-lemak tubuh. Seberapa banyak kita minum air putih per hari? “Ukurannya yaitu sampai urine kita tidak berwarna. Urine yang sehat adalah yang bening seperti air ledeng, tidak boleh berwarna,” katanya.

la juga mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap bahaya gula.

“Batasi makanan yang mengandung gula seperti beras, terigu, kentang, umbi-umbian, serta wortel (yang dimasak sebagai sup atau dijus). Wortel yang dijus akan menjadi air gula. Artinya kalau kita minum jus wortel sama dengan kita minum air gula. Segala buah yang manis juga mengandung gula. Pemanis dalam bentuk artifisial, seperti aspartam, sakarin, lebih berbahaya daripada gula,” katanya.

Jika demikian, buah apa yang baik? Ditanya demikian ia tersenyum. “Buah yang baik adalah alpukat dan kedondong. Gigi saya sudah habis. Agar saya bisa makan sayur mentah, kedondong, mangga muda, dan pepaya muda, semua gigi sudah diganti dengan teknologi implant. Bukan karena keropos, tapi kebanyakan karena kecelakaan di masa lalu, zaman masih menunggang
scooter. Oh ya, mangga muda, pepaya muda (bukan yang sudah ranum dengan tinggi kadar fruktosanya) baik dimakan,” sambungnya.

Menularkan pola hidup sehat

Dengan mengubah pola makannya, Dr Tan merasa badannya nyaman dan lebih energik. Bobot tubuhnya pun proporsional dengan tingginya. la berhasil menurunkan berat badannya 21 kg dari berat semula 80 kg. Bukan hanya itu, daya ingatnya pun semakin tajam. “Waktu kuliah dulu, kalau ada teman yang menyebut suatu masalah, saya langsung ingat masalah itu dibahas di
buku apa, halaman berapa. Nah, di usia saya sekarang ini, daya ingat saya kembali seperti itu.

Temuan-temuan ini ditularkan kepada pasien-pasiennya.

“Mereka saya anjurkan makan tomat dan mentimun. Saya perhatikan, hanya dalam waktu tiga hari atau seminggu, kondisi kesehatan mereka mengalami kemajuan. Mengapa? Karena sayuran mentah adalah makanan yang sesuai dengan DNA kita,” katanya.

Kepada pasien-pasiennya, Dr Tan tidak pernah memberi obat-obatan kimia. Bilamana perlu ia hanya memberikan satu suntikan untuk memperlebar pembuluh darah. “Pembuluh darah pasien stroke sering bermasalah,”demikian
alasannya. Di samping itu, ia juga mengaplikasikan teknik meridian melalui titik-titik akupuntur. Ilmu tersebut dipelajarinya antara lain dari sebuah buku keluaran Bayer dan banyak buku asli tentang meridian dan akupuntur dari bahasa dan sumber aslinya yaitu bahasa Mandarin. Bahasa itu justru baru dikenalnya sebagai orang Tionghoa ketika Jepang masuk dan bahasa Belanda dilarang.

Tidak merepotkan orang lain

Sekarang ini Dr Tan masih sering ke hotel bintang lima untuk makan, tapi ia lebih cerdik. “Saya pilih light lunch, ya murah, ya sehat. Saya bisa makan salad sesuka saya,” katanya.

la sangat yakin, apabila setiap orang mau menjaga diri dan merawat diri, ia akan mendapatkan kesehatan yang prima, yang memperpanjang usia hidup aktif. “Dampaknya tentu sangat positif, yang jelas kita tidak merepotkan diri sendiri di usia lanjut dan tidak tergantung pada pasangan, anak-anak, atau orang-orang di sekitar kita. Saya mempunyai tujuan mempertahankan hidup yang berkualitas demi kemanusiaan dengan mempraktikkan kejujuran serta kebenaran untuk tujuan tersebut,” tuturnya.

“Sekarang saya punya konklusi yang jelas sekali, yaitu dengan mengikuti DNA – hanya makan sayur, selanjutnya dikombinasi dengan quantum touch- pasti akan sehat seumur hidup.”

Bagaimana dengan bermacam-macam diet yang digembar-gemborkan sekarang ini? “Omong kosong! Ndak bisa itu! Pokoknya paling baik hanya mengkonsumsi sayuran mentah. Yang lain dilupain aja, deh,” ujarnya. Ekstrim? Tentu begitu kesan pertamanya. Tapi bagaimanapun, komitmen dan disiplinnya untuk sehat sangat mengagumkan. (N)

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

Perang Mutu

Posted by arief on June 10, 2007

“Produk perusahaan Saya, tak pernah berhasil memasuki pasar Jepang…!”, ungkap seorang eksportir dalam sebuah seminar di Jakarta.

Awal dari pecahnya “perang” yang mengagungkan mutu produk dimata konsumen, dengan hadirnya dua proses globalisasi ekonomi. Pertama, adalah globalisasi produksi yang diikuti dengan tidak adanya batas-batas produksi antarnegara. Suatu produk tak lagi diproduksi hanya disatu negara, tapi dihasilkan ditempat dengan ongkos yang bersaing dan penerapan standar mutu yang konsisten. Modal saat ini, mengucur ke negeri yang memberi ongkos produksi murah, mutu terjamin, dan karenanya memberi harapan terhadap margin keuntungan yang optimum. Kedua, adalah globalisasi perdagangan yang ditandai dengan diturunkannya berbagai tarif bea masuk dan disingkirkannya proteksi yang menjadi penghambat lintas batas perdagangan. Maka mutu menjadi kata kunci dalam ranah globalisasi itu.

Inilah sebabnya mengapa konsumen menuntut kualitas produk sesuai standar yang diterima secara internasional, melalui Organisasi Standar Internasional dengan ISO 9000 (Sistem Manajemen Mutu). Selama persyaratan ISO 9000 terpenuhi akan terjamin pula kualitasnya. Konsumen juga menuntut agar produsen dan pedagang tak merusak lingkungan, dengan mempersyaratkan penerapan ISO 14000. Lebih dari satu dasawarsa lalu, ada satu hal yang menggejala dimana konsumen meminta jaminan dalam bentuk “ecolabel”, yang dipasang pada produk dan memuat ketentuan lingkungan itu. Sebagai penentu arah konsumsi, tuntutan ini tak bisa diabaikan oleh produsen dan pedagang.

Dua proses globalisasi ekonomi tersebut turut menjadi pemicu pecahnya “perang mutu”. Berbagai kesepakatan internasional ditandatangani, konvensi diselenggarakan, hadirnya kelompok ekonomi antar kawasan, hambatan dikurangi, saling menurunkan tarif, saling berjibaku dalam layanan mutu produk dan canggihnya kualitas hidup. Layaknya sebuah medan perang, berbagai perusahaan (multinational corporation) saat ini, saling menggerincingkan pedang (saber ratting), merebut hati konsumen dilintas batas antar negara. Tepat jumlah, tepat harga dan tepat mutu adalah obat penawarnya. Bagaimana kondisi ini diciptakan?

AMERIKA vs JEPANG
Usai perang dunia kedua (PD II), kesenjangan tingkat teknologi antara Jepang dan Amerika ditutup dengan impor teknologi besar-besaran disertai pelatihan intensif kepada para teknisinya. Dengan kerja keras, bangsa Jepang telah berhasil mentransformasikan citra barang murah pada PD II, ke citra barang murah Jepang, tetapi bermutu tinggi. Sehingga berhasil menembus pasaran dunia. Jepang memang dipaksa bertekuk lutut pada perang dunia kedua dulu, karena dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tetapi pada saat “perang” mutu dalam era ini, Amerika berbalik memohon kepada Jepang agar membuka pasar dalam negerinya dan menaikkan nilai Yen, karena Amerika dibanjiri barang Jepang yang bermutu tinggi.

Sukses industri Jepang, karena bangsa Jepang sangat memperhatikan keteraturan, kebersihan, dan perbaikan yang berkesinambungan (Kaizen). Masuklah ke perusahaan Jepang, lantai pabrik sangat bersih, mesin-mesin dijaga tetap bersih dan segala sesuatu diletakkan pada tempatnya. Menurut Hayes dan Wheelwrigth (1984), “seorang manajer Amerika bercerita dengan penuh keheranan karena disuruh membuang plastik yang menempel di sepatunya, sebelum diijinkan berjalan dilantai pabrik yang telah berusia 30 tahun”.

Konsultan Navigator Research Institute (2006) memiliki pengalaman yang sama, ketika melakukan preliminary review pada sebuah perusahaan Jepang di kawasan industri Cikarang, “seorang security dengan percaya diri mengharuskan melepas sepatu dan menggantinya dengan bakiak ala Jepang sebelum memasuki ruang rapat perusahaan tersebut”.

Kaizen pada dasarnya berarti perbaikan (improvement) terus-menerus. Tiada kata akhir dalam perbaikan, sangat dihayati oleh orang Jepang sebagai “mental Jepang”. Strategi Kaizen mengatakan bahwa tidak satu haripun boleh terlewatkan tanpa perbaikan yang dilakukan dalam perusaahaan. Pola ini, sangat mempengaruhi peningkatan kualitas “proses konversi” di perusahaan Jepang. Proses konversi ini bermakna jika kita ingin meningkatkan kualitas produk, maka tingkatkan kualitas inputnya terlebih dahulu. Jangan bermimpi untuk mendapat output yang bagus dari input yang jelek. Karena itu “proses konversi” yang mengubah input menjadi output, juga harus ditingkatkan. Sebab produk merupakan hasil akhir dari suatu proses roduksi.

Banyak orang merasa bahwa metode Jepang mungkin hanya cocok untuk Jepang sedangkan di Amerika tidak akan bisa berjalan. Pandangan ini ternyata salah dalam banyak hal. Contoh klasik ialah pabrik Motorolla (Quasar Electronics) yang diambilalih Matsushita tahun 1974. Sebelum pengambilalihan, Motorolla mengalami 150 kerusakan per 100 set. Tetapi dalam kurun waktu yang relatif singkat, tingkat kerusakan tersebut berhasil dikurangi menjadi 3 sampai 4 per 100 set dipabrik yang sama, dengan pekerjaan yang sama dan orang-orang pengendali mutu yang sama. Satu-satunya yang berbeda adalah, adanya beberapa Manajer Jepang yang memasang pendekatan Jepang terhadap manajemen mutu. (J.M Juran: “Japanese and Western Quality – A Contrast”, Quality Progress; p.14).

Manajemen mutu total dan Kaizen sebagai suatu konsep, memayungi kebanyakan praktik unik manajemen Jepang, seperti: customer orientation (fokus pelanggan), robotics, QC-Circles (siklus kendali mutu), automation (otomatisasi), discipline in the workplace (disiplin), quality improvement (perbaikan mutu), zero defects (kerusakan nol), dan sebagainya.

Semangat membangun manajemen mutu total telah mengakar pada orang Jepang sejak dulu. Hal ini erat kaitannya dengan konsistensi dan kesadaran mutu yang tinggi (high quality consciousness) orang Jepang. Begitu tingginya kesadaran akan kualitas itu sampai-sampai membuat frustasi seorang eksportir, karena produknya tak pernah memenuhi persyaratan standar Jepang. Itu artinya pasar Jepang tak akan pernah ia tembus.

Samurai obat penawar untuk menembus pasar itu adalah, mulailah menerapkan manajemen mutu total, untuk selalu siap saling menggerincingkan pedang.

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

ISO 22000 Industri Pangan

Posted by arief on June 9, 2007

Apakah maraknya kasus keracunan makanan dan minuman belum menjadikan pihak pihak industri sadar akan pentingnya menjaga keamanan makanan & minuman yang dihasilkan ?Apakah perlu lebih banyak korban manusia yang berjatuhan ? Apakah industri makanan & minuman tidak memikirkan dampak kerugian yang ditimbulkan apabila produknya mengakibatkan hilangnya nyawa puluhan orang ?

International Organization for Standarization (ISO) dengan TC 34 telah merilis standar baru mengenai Food Safety Management System ISO 22000 (FSMS ISO 22000) pada bulan September 2005. Hal ini tentu saja bukan untuk suatu kepentingan politik maupun kepentingan salah satu pihak, tetapi lebih kepada peningkatan jumlah makanan yang aman untuk dikonsumsi oleh manusia.

Mengapa ISO sampai mengeluarkan standar tersebut ?

Dalam beberapa tahun terakhir, kita dapat melihat mencuatnya kasus keracunan makanan seperti adanya kasus keracunan sari buah di Surabaya (Mei 2004), kasus keracunan sebagian besar karyawan sebuah Televisi Swasta di Jakarta setelah mengkonsumsi katering perusahaan, kasus keracunan susu pada siswa-siswa SD, dsb.Berikut adalah grafik prosentase sumber keracunan makanan di Indonesia tahun 1997- 2000 (Sumber PPM & PL, 2002) silakan Klik disini

Terlihat pada grafik tersebut bahwa penyebab keracunan makanan terbesar di Indonesia berasal dari sektor catering. Hal ini tentu saja disebabkan karena tidak adanya Bagian Quality Control dan rendahnya pengetahuan cara mengolah makanan & minuman secara aman, serta kurangnya kontrol terhadap kebersihan para pekerja catering.Meskipun kasus keracunan yang timbul dari sektor industri cukup rendah, bukan berarti kasus keracunan yang berasal dari sektor industri tidak ada. Bahaya terhadap pangan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu bahaya fisik, bahaya kimia dan bahaya biologi. Peningkatan kasus keracunan makanan akibat bahaya biologi dalam beberapa tahun terakhir timbulnya cukup banyak varian dari mikroba, bakteri dan virus, seperti E.Coli 0157, E.Coli 0111, Salmonella Enteritidis, Norwalk viruses, dll. Sedangkan untuk bahaya kimiawi juga mengalami peningkatan yang signifikan karena adanya peningkatan teknologi dan teknik analitik. Kontaminasi bahaya terhadap pangan harus mulai dicermati pada seluruh proses rantai makanan. Sehingga FSMS ISO 22000 telah mengatur mengenai penanganan mulai dari lahan (agrikultural) hingga menjadi makanan/minuman yang aman untuk dikonsumsi.

Aman disini berarti : aman untuk diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan sekitar dan Dunia

Konsep ini dikenal dengan konsep form Farm to Table.

ISO 22000 merupakan suatu perpaduan standar yang telah ada selama ini yaitu Standar Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 dengan Standar Keamanan Pangan HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point). Dengan kombinasi tersebut maka diharapkan perusahaan/organisasi dapat menghasilkan Makanan/Minuman yang berkualitas (sesuai dengan harapan pelanggan) dan aman.

Beberapa seri ISO 22000 adalah
- ISO 22000 equirements for Food Safety Management Systems – ISO/TS 22004 Guidance on the application of ISO 22000 – ISO/TS 22003 Requirements for bodies providing audits and certification of food safety management systems
- ISO 22005 Tracebility in the feed and food chain – General principles and guidance for system design and development

Beberapa elemen kunci yang menyebabkan ISO 22000 dapat efektif diterapkan yaitu :
1. Merupakan sistem manajemen yang menggunakan pendekatan ISO 9001:2000
2. Adanya kontrol terhadap proses
3. Adanya penekanan khusus terhadap komunikasi (internal & eksternal) sepanjang rantai
makanan (food chain)
4. Adanya prerequisite programs
5. Adanya infrastruktur dan pemeliharaan program
6. Adanya prinsip HACCP

Persyaratan ISO 22000 :
1. Scope
2. Normative Reference
3. Terms & Definition
4. Food Safety Management
4.1 General Requirement
4.2 Document Requirement

5. Management Responsibility
5.1 Management Commitment
5.2 Food Safety Policy
5.3 Food safety Management System Planning
5.4 Responsibility & Authority
5.5 Food safety Team Leader
5.6 Communication
5.7 Contingency Preparedness & Response
5.8 Management Review

6. Resource Management
6.1 Provision of Resources
6.2 Human Resources
6.3 Infrastructure
6.4 Work Environment

7. Planning & Realization of Safe Products
7.1 General
7.2 Prerequisite Programme
7.3 Preliminary Steps to Enable Hazard Analysis
7.4 Hazard Analysis
7.5 Establishing the Operational PRPs
7.6 Establishing the HACCP Plan
7.7 Updating of Preliminary Information and Docs. Specifying PRPs and HACCP plan
7.8 Verification planning
7.9 Operation of Food Safety Management System
7.10 Control of Nonconformity

8. Validation Verification & Improvement of Food Safety Management System
8.1 General
8.2 Validation of Control Measure Combinations
8.3 Control of monitoring & Measuring
8.4 Food Safety management System Verification
8.5 Improvement

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa ISO 22000 merupakan perpaduan dari standar ISO 9001, sehingga pada persyaratan diatas dapat dilihat bahwa terdapat kesamaan pola dan persyaratan dari standar ISO 22000.

Klausul 4 standar ISO 22000 membahas mengenai persyaratan umum sistem dan dokumentasi sistem (seperti klausul 4 standar ISO 9001:2000).

Klausul 5 ISO 22000 membahas mengenai Tanggung Jawab Manajemen. Secara garis besar pola yang digunakan sama dengan klausul 5 ISO 9001, tetapi ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan antara lain pada Kebijakan Manajemen terhadap Keamanan Pangan (5.2), Perencanaan Keamanan Pangan oleh Top Management (5.3) dan cegah tanggap kemungkinan adanya situasi darurat dan kecelakaan akibat produk pangan yang dihasilkan (5.7)

Klausul 6 standar ISO 22000 juga membahas mengenai sumber daya (seperti klausul 6 standar ISO 9001:2000).

Klausul 7 standar ISO 22000 membahas mengenai perencanaan dan realisasi produk pangan yang aman.

Pada klausul 7 ini, terutama pada klausul 7.2 terdapat persyaratan mengenai Pre-Quisite Program(s)/(PRP(s)). Program ini sangat membantu untuk mengurangi adanya CCP (Critical Control Point) pada proses, karena program ini dapat :
- Mengendalikan peluang bahaya keamanan pangan produk melalui lingkungan kerja
- Mengendalikan kontaminasi (bio0Fis-Kim) dan kontaminasi antar produk
- Mengendalikan tingkat bahaya keamanan pangan pada produk lingkungan proses
produksi

PRP(s) ini terdiri dari :
- Infrastruktur dan Program Pemeliharaan Termasuk didalamnya layout, konstruksi, fasilitas, pasokan air, pasokan energi, peralatan, design, akses pemeliharaan dan kebersihan, dan jasa pendukung (sampah dan limbah)
- Operasional PRP(s), Termasuk didalamnya kesehatan personil, pembersihan dan sanitasi, pengendalian hama, pengukuran pada pencegahan kontaminasi silang, pengepakan, pembelian bahan.

Klausul 8 standar ISO 22000 membahas mengenai verifikasi, validasi dan peningkatan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.Perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan ISO 9001:2000 adalah adanya verifikasi hasil verifikasi individual (8.3.2).

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »

Contract Manufacturing

Posted by arief on May 31, 2007

Contract Manufacturing atau lebih dikenal dengan “makloon” adalah kerjasama yang dilakukan oleh brand owner dan manufacturer dalam memproduksi suatu produk. Contract Manufacturing bukanlah sesuatu hal yang baru dan sudah banyak dilakukan dunia usaha baik dalam maupun luar negeri. Contract manufacturing dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan pada masa sekarang penerapannya merupakan hal yang penting mengingat persingan usaha yang semakin meningkat dan untuk menghadapi era globalisasi. Di Indonesia penerapan Contract Manufacturing telah banyak berkembang pada industri – industri non pangan seperti ; industri alas kaki, garment dll, dan saat ini mulai merambah ke industri pangan. Industri pangan yang telah melakukan makloon antara lain adalah industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), industri makanan ringan (Snack food), mie instant, biskuit, jelly, pudding dan lain – lain.

Pada dasarnya penerapan Contract Manufacturing memberikan keuntungan dan kerugian. Bagi brand owner keuntungan yang didapat antara lain adalah investasi yang kecil, resiko untuk uji coba rendah, brand owner dapat tetap fokus ke bisnis inti dan dapat menghemat waktu. Sedangkan kerugiannya antara lain formulasi dan omset dapat di ketahui oleh manufacturer, adanya ketergantungan terhadap supply produk jika produksi bermasalah, terdapat kemungkinan manufacturer lebih memprioritaskan pada produknya sendiri dan kurang terjaminnya kualitas.


Di sisi lain seperti halnya brand owner, penerapan Contract Manufacturing bagi manufacturer juga memberikan keuntungan dan kerugian. Keuntungannya antara lain investasi yang kecil, kapasitas produksi terjamin, biaya iklan atau promosi kecil dan meringankan tugas marketing. Sedangkan untuk kerugiannya proses dan mekanisme produksi dapat terlihat. Akan tetapi walaupun Contract Manufacturing memberikan banyak keuntungan baik bagi brand owner maupun manufacturer, dalam penerapan Contract Manufacturing untuk mencapai keberhasilan perlu prinsip saling mendukung dan menguntungkan (win-win solution).

Selain itu, Contract Manufacturing perlu didasarkan pada ketentuan dan perundangan yang berlaku dan khusus industri besar dengan usaha kecil menengah perlu adanya pembinaan dalam penerapannya. Terdapat kondisi yang harus diperhatikan oleh brand owner dan manufacturer dalam penerapan Contract Manufacturing, antara lain Brand owner perlu memikirkan aspek hukum, kapasitas produksi, cadangan teknis, produk dan manufacture visit. Sedangkan bagi manufacturer perlu memikirkan aspek legal, profil perusahaan, company visit dan masalah keuangan. Beberapa ketentuan yang bisa dijadikan acuan untuk Contract Manufacturing antara lain;UU No. 7/1996 tentang pangan berikut Peraturan Pelaksanaanya ; UU No. 23/1992 tentang kesehatan, UU No. 5/1984 tentang Perindustrian, dan UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. UU No 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Peraturan Pemerintah tentang kemitraan usaha. (Sumber : seminar Optimizing Company Performance 9 Desember 2004 – Gapmmi).

Posted in Teknologi Pangan | Leave a Comment »